Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2014

Short Story by Thye Savannah



Selembar Hijab di Surga Dunia
by Thye Savannah




(I got an achievement with this work, enjoy it friends! ^_^)

“Pakailah Hijab mu!”
Teriakan Kyai Zaid hingga sekarang masih terngiang di telingaku. Bentakan tegas itu di ucapkannya seketika aku baru saja menapak di Pondok Pesantren Al-Malikus Salam. Aku masih begitu ingat, ketika itu aku masih berumur 18 tahun. Ketika aku masih berteman dengan kenakalan dan terlalu bersemangat dengan kondisi-kondisi liar yang belum aku ketahui saat itu. Aku masih belum menyapa kehidupan yang sesungguhnya. Takut gadis kecilnya terjebak ke lobang hitam dan tak pernah lagi kembali, kekhawatiran itu lah yang memaksa kedua orang tua ku berkehendak untuk mengantarkan aku kepada Kyai Zaid.
Kyai Zaid sendiri adalah kepala Ponpes Karim Syu’aib. Setahu ku, beliau dahulu juga santri alumni Ponpes ini. Sekarang beliaulah yang mengasuh para santri. Pertama kali melihatnya, aku menatap wajahnya penuh takut. Cukup jelas betapa tebal imannya. Tetapi aku merasa risau. Yang ku takutkan bukanlah karena akan dididik oleh kyai itu, tetapi pikiran yang  ku risaukan jauh lebih buruk dan cukup sering mendatangi otakku. Aku takut jika suatu hari beliau memintaku menyentuh selembar kain itu dan meminta ku memasangnya di atas kepala ku. Selembar kain yang disebut ibuku sebagai kerudung, hal yang paling aku takuti di dunia ini. Tentulah itu yang akan beliau lakukan pertama kali bertemu dengan ku. Dia mengerang keras ketika aku dengan berani membentak kedua orang tuaku di hadapannya, saat aku bersikeras tak akan pernah memakaikan apapun yang akan menutupi rambut indah yang aku miliki.
Tapi suatu kali aku sadari bahwa aku salah. Yang ku ingat hanyalah bentakan yang beliau lontarkan kepadaku yang berdosa, bukan betapa ramahnya dia kepada semua orang yang mengemis ilmu. Sikap lemah-lembut Kyai Zaid kerap membuat para santri nyaman menimba ilmu disana. Suguhan rohani yang terjadwal tiap harinya sama sekali tak membuat para santri terganggu, “karena itu semua yang sebenarnya kita butuhkan.” Seru Kyai Zaid. “Dengan menolong agama Allah, maka Allah juga akan membantu kita.” Tambahnya lagi.
Namun keramahan para santri yang ditularkan oleh beliau benar-benar membuatku takut sewaktu baru sehari-dua hari berada disini. Tak ada yang bisa aku lakukan selain dari pada pasrah walaupun hati ku merasa terancam akan aturan-aturan (yang sebenarnya semakin lama semakin aku butuhkan, sungguhpun tentu saat itu aku masih belum menyadarinya). Pikiranku masih miskin akan agama. Aku sama sekali tak menyadari bahwa kodratku hidup di dunia ini hanyalah sebagai makhluk pengemis yang akan selalu memohon kepada Rabb dan Al-qur’an sebagai tumpuan hidup ku. Tak pernah ku sadari hal tersebut barang sekali sebelum itu, sehingga tak pula pernah ku kecup manisnya hidup. Hingga akhirnya seorang ibu yang penuh cinta membawa akuanaknyake tempat yang ia sebut sebagai surga dunia. Pondok pesantren Al-Malikus Salam.
Orang tua ku menggiring langkahnya, berjalan memasuki gerbang pesantren ini dengan perasaan kalap! Barangkali mereka merasa hiba meninggalkan aku di sini, atau barangkali mereka khawatir jika aku tak juga bisa dididik di tempat ini. Mereka cukup sadar, betapa sulitnya menuntun hati ku kepada yang benar. Acap kali aku menemukan tangisan di belah pipi sang Ibu penuh duka, tangisan akan kedurhakaan putrinya. Tetapi tak ada yang bisa mereka perbuat untuk merubahku. Cukup peka hati ku dari cahaya Ilah. Telingaku pun masih tuli akan merdunya untaian ayat-ayat Al-qur’an.
“Mama, Mae mohon jangan siksa Mae di sini. Mae ingin pulang ma..” rengekku berulang kali. Tak ada yang mendengar rengekan pilu ku (yang dibuat-buat), tak pula ayah ku.

Mereka langsung menuju keberadaan sang pemimpin Ponpes untuk melaporkan penyerahan kuasa atas diriku. Aku sendiri menyusuri setiap lorong-lorong ruangan yang dipadati para santri berjilbab, sementara aku tidak. Pantas saja semua orang melihatku. Hanya balutan sehelai kaos oblong longgar berlengan pendek dan jeans yang terlihat menyesak yang ku kenakan. Ratusan pasang mata bagaikan mengancam setiap keberadaanku.
Assalaamu’alaikum..” Sebuah suara menyapa. Aku terkaget mendengar lembutnya suara itu. Aku hanya tersenyum tanpa sempat menjawab salam dari seorang muslimah yang anggun bagaikan jelmaan sang bidadari. Aku sama sekali tak menjawab salamnya.
“Siapa nama ukhti?”
Kening ku seketika menyerngit, mencoba mengerti apa yang dia tanyakan.
“Maksudnya?” tanya ku dengan gugup. Wanita muda berumur sekitar dua-puluhan itu tertawa, namun tak menyisakan suara.
“Nama adik siapa?” Tanya nya lagi. Akhirnya aku mulai menyimpulkan, ukhti barangkali bermakna adik (tetapi tentulah bukan, aku belum sepenuhnya mengerti).
“Oh! Aku Maesya.”
Wanita itu terlihat kaget. Tanpa ku tanya, dia menyebutkan nama nya yang ternyata identik dengan namakunamanya Maesyaroh. Saat itu juga dia mengulurkan telapak tangan yang sebagian besar tertutupi oleh kaus tangan, hanya tersisa jemari-jemari putih yang bercahaya (karena wuduh’nya). Saat aku menjabat tangannya, dia menempelkan kedua pipinya ke wajahku bersamaan dengan bisikan Ahlan wa Sahlan, keramahan dari seorang yang masih asing bagi ku. Aku terkesiap menerima perlakuan tersebut, namun tak dapat ku pungkiri itu lah pertama kalinya rasa tentram seketika menyapaku.
Mba Maesyaroh membawaku duduk di taman. Dia segera mengakui bahwa Kyai Zaid sengaja menyuruhnya mencariku. Dia akan menjadi kakak sekamarku.
Pertanyaan bodoh pun ku ucapkan,“kok Mba bisa langsung yakin pas ketemu aku?”. Dia tertawa, lagi-lagi tertawa tanpa mengeluarkan suara, aku bingung bagaimana cara dia melakukannya. “Ah, dik. Kan Cuma adik yang tak memakai jilbab. Ibu adik juga menyebutkan sebelumnya.” Ujarnya. Aku tersenyum malu-malu dan sedikit risih karena berhadapan dengan orang semanis itu. Ujarannya begitu lembut dan tenang, jauh berbeda dari perempuan dewasa yang kutemui kebanyakan.
Keramahan yang ku dapatkan darinya merubah rasa takutku akan dunia baru ku ini. Dengannya lah aku memulai detik-detik awal kehidupan sebagai seorang santri.
Agenda Malam pertama kalinya telah aku mulai dengan menghadiri acara majlis, Kyai Zaid bertindak langsung dalam memberi kami siraman rohani. Sejujurnya saat itu hatiku mendongkol tanpa ada rasa takut sedikitpun. Aku menganggap majlis itu sebagai hal yang sia-sia belaka, membuang waktu terbaikku untuk beristirahat dengan cepat.
“Ayat lain yang menyinggung tentang pensyariatan hijab adalah ayat ke-59 surah Ahzab. Allah swt dalam ayat tersebut berfirman : Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan kepada wanita-wanita mukmin agar mereka mendekatkan diri kepada mereka dengan jilbab mereka supaya mereka mudah dikenal dan supaya mereka tidak diganggu maka sesungguhnya Allah Maha mengampuni dan Maha Penyayang.”
“Imam Shadiq a.s. bersabda: “Cukuplah sebagai tolak ukur kehinaan seseorang ketika dia memakai baju yang menyebabkan kemasyhurannya.”
“Rasulullah saw pun bersabda: “Wanita yang di neraka menggantungkan dirinya dengan rambutnya adalah wanita yang tidak menutup rambutnya di hadapan selain muhrim.” Terang Kyai Zaid dalam kultumnya. Saat itulah tubuhku mulai  terasa menggigil dirayapi rasa takut.
Suatu waktu aku menyambut shubuh pertama dengan tangisan. Aku menangis karena sebuah ketidak-siapan sementara aku telah resmi menjadi bagian dari mereka. Aku juga menangis menahan rasa takut, ucapan Kyai Zaid malam itu masih terngiang-ngiang di otakku.
“Adik kenapa?” Mbak Maesyaroh menghampiriku dan bertanya. Aku semakin tersedu.
“Bagaimana aku bisa menjadi bagian dari kalian sementara nafsu memaksaku untuk mengingkarinya. Bagaimana aku mampu melunakkan hati yang sekeras batu ini untuk kembali menjemput kesejukan.” Isakku tersedu-sedu.
“Adik, kemarilah.” Ungkapnya, lalu merogoh selembar kain dari dalam lemari kayu miliknya. Sehelai kerudung berwarna peach. Lalu menaruhnya dengan lemah lembut di atas kepalaku, menutupi segalanya, dan hanya menyisakan wajahku, lalu ia menuntunku menghadap ke cermin. Sungguhpun ketika itu aku menurut saja pada nya.
“Lihatlah wajahmu. Rasakan ketentraman yang akan membelai segenap jiwamu. Hijab tidaklah membuatmu berubah secepat tiupan angin, tetapi akan menuntunmu secara perlahan. Percayalah, hijab akan menjemput kesejukan untuk hati mu.” Tuturnya.
Aku tersenyum dan menyeka air mataku. Benar saja, ketentraman menerpa sekujur tubuhku bagaikan suatu mukjizat. Tak pernah aku merasakan hal yang lebih sejuk lagi sebelumnya. Aku bahkan melihat betapa indahnya wajahku berhiaskan kerudung itu. Aku tersenyum berurai air mata. Sungguh bahagia yang ku rasakan semenjak itu. Semakin lama aku bersama kerudung itu, maka kesejukan bathin semakin ku rasakan sehingga hadirlah rasa butuh yang amat sangat. Tak mampu kepalaku terlepas dari balutan lembutnya yang melindungi ini. Menutup rapi auratku bagaikan benteng yang melindungiku dari serangan peluru sekalipun. Peluru yang tak jarang mengintai setiap keberadaan makhluk seindah perempuan, yaitu mata-mata yang tak berhak memandangnya.
Saat ini, ku masih bisa mengingat segala masa yang telah ku tinggalkan jauh di belakangku. Terkadang rasa geli dan menyesal tak bosan menemaniku. “Ah, seandainya Mama tak membawaku ke surga ini, maka celakalah hidupku.” Gerutuku.
Suatu hari setelah tiga tahun aku menjalani kehidupan di Ponpes yang penuh dengan berkah ini, Mbak Maesyaroh menunjukkan kepadaku sebuah foto yang membuatku memekik ngeri melihatnya. Terdapat potretan yang sebenarnya tak lain terlihat nyaris sama dengan ku waktu dulu. Potretan seorang gadis tanpa kerudung berpakaian tak ubahnya seperti tanpa pakaian- tengah berpose layaknya selebritis neraka. Aku menatapnya penuh sesal, begitu celanya aurat yang terbuka itu, sama sekali tak enak dipandang mata.
“Ini fotoku sewaktu masih berumur 18 tahun. Tepatnya potretanku lima tahun yang lalu.” Aku mengamati foto itu lekat-lekat dengan bertanya-tanya. Nyaris aku tak percaya bahwa ini adalah Mba Maesyaroh. “Hijablah yang mengubahku di tempat bagaikan surga ini.” Celetuknya dan tersenyum penuh haru.

A non-fiction Short Story



I wrote it as my assignment. My lecturer asked us to find an example of literature work, “Find and collect it!”, and I preferred to create it by myself as long as I can do! ;) Enjoy it friends..! It's based on my own experience.


Gempa!
By. Thye Savannah
Tiada kenangan lainnya yang lebih menakutkan melainkan sebuah kenangan yang terekam saat umurku baru memasuki usia remaja. Aku hanyalah remaja biasa yang saat itu  baru seusia seorang murid sekolah menengah pertama, masih sebagai murid di salah satu pondok pesantren. Aku tak terlalu ingat berapa tinggi tubuhku saat itu, sepertinya masih terlalu kecil. Karena seingatku, tubuhku baru mencapai tinggi bahu seorang guru yang saat itu ku peluk dengan penuh rasa takut. Aku menggigil penuh oleh keringat dingin. Tak hanya aku. Tapi semua teman perempuan dan sebagian besar teman laki-laki di sekolah ku. Bahkan banyak diantara kami yang menangis. Kami tak menyangkan segalanya akan berubah semudah itu.
Saat itu kami baru memulai pelajaran jam ketiga setelah istirahat. Mulanya kami tertawa terbahak tanpa berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku masih ingat ketika seorang guru memintaku menyelesaikan sebuah jawaban pelajaran matematika di depan kelas. Ku pikir aku memberikan jawaban yang tepat dan seharusnya akan dihadiahi tepuk tangan seisi kelas lagi. Tapi sepertinya tidak. Saat aku berbalik menuju wajah teman-teman, aku hanya mendapati raut pucat mereka satu-per satu. Aku masih merasa bingung. Guruku berdiri dan meminta aku segera duduk tanpa berniat sedikitpun untuk memeriksa jawaban yang ku tulis. Wajahnya juga terlihat pucat.
            “Hey! Ada apa?” bisik ku pada Dahlia―dia teman sebangku ku.
            “Gempa! Kau tak merasakannya?” Barulah saat itu aku terkejut. Aku tak merasakannya sama sekali!
Guruku berjalan mendekati jendela. Saat itulah aku baru merasakan getaran yang mengguncang tempatku menapak. Semua murid segera berhamburan keluar dari ruangan kelas dengan teriakan melengking. Aku merasakannya tentu saja, dan itu saat pertama kalinya bagi ku. Sungguh mengerikan. Tanah yang ku pijak bergetar cukup lama saat itu. Lafadz zikir tak henti kami ucap bersama-sama.
“Tebingnya runtuh! Lihat! Tebingnya runtuh! Ngarai sianok!” sorak salah seorang teman lelaki. Kami berlari untuk melihat langsung.
Dari sekolahku yang berlokasi di ketinggian, kami bisa melihat dengan jelas saat tebing ngarai sianok runtuh walaupun jaraknya cukup jauh. Beberapa teman kembali terpekik ngeri melihat kejadian itu.
Kami tak melanjutkan kegiatan belajar. Guru-guru berusaha menenangkan murid-murid dan memberikan kami arahan jika sewaktu-waktu gempa kembali terulang. Hanya sekian jam setelah itu kami telah berani tertawa lagi. Rasa takut itu perlahan-lahan hilang. Yang kami pikirkan saat itu ialah agar kami cepat bisa pulang setelah jam istirahat sholat makan (isoma) berakhir.
Masjid tempat kami sholat letaknya tak terlalu jauh dari bangungan pesantren, hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit hingga kami mencapai lokasi. Sebetulnya kami merasa sedikit was-was jika nanti gempa kembali mengejutkan kami. Aku memilih untuk diam menenangkan diriku tanpa harus ikut dengan sekelompok teman yang masih membicarakan tentang gempa.
Rakaat pertama dan kedua berlangsung tenang, walaupun hatiku penuh dengan rasa takut yang membayang. Saat sujud rakaat ketiga, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang dahsyat dari tempat sujudku. Bumi seakan ingin meledak! Selama dua detik aku masih setia dalam keadaan sholat karena ku pikir tak ada tempat yang lebih aman selain di dalam masjid. Namun melihat orang-orang telah berhamburan, aku pun ikut mengkerahkan segenap tenaga untuk segera lari. Rasanya cukup sulit mencapai pintu masjid saat bumi bergerak bagai ingin menggulung. Mataku menatap langit yang terlihat bagai ingin memakan kami, benakku berpikir mungkin saat itu kiamat akan segera membinasakan kami semua. Mungkin umurku tak akan cukup panjang hingga malam nanti. Sungguh sangat menakutkan! Aku menangis berpelukan dengan beberapa orang temanku. Tangisku semakin keras saat melihat kaki salah seorang teman yang terluka penuh darah. Gempa masih saja berlanjut hingga beberapa detik saat kami telah berada di luar.
            Kaca-kaca mesjid berjatuhan, hanya itu kerusakan yang kutemui dengan jelas pada masjid itu. Sementara di sekelilingku, rumah-rumah penduduk tak di sangka telah berubah berbagai bentuk. Semua warga keluar dari rumah mereka. Saat itulah aku teringat akan keluargaku di rumah. Dengan cepat aku memaksa teman-temanku kembali menuju pesantren agar bisa cepat pulang ke rumah. Kakiku yang bergetar hebat masih cukup mampu ku paksa berlari. Aku tak ingin menunda lebih lama lagi untuk bersua keluargaku.