Selembar
Hijab di Surga Dunia
by Thye Savannah
(I got an achievement
with this work, enjoy it friends! ^_^)
“Pakailah Hijab mu!”
Teriakan Kyai Zaid hingga sekarang masih terngiang di telingaku. Bentakan tegas itu
di ucapkannya seketika aku baru saja menapak di Pondok Pesantren Al-Malikus
Salam. Aku masih begitu ingat, ketika itu aku masih berumur 18 tahun. Ketika
aku masih berteman dengan kenakalan dan terlalu bersemangat dengan
kondisi-kondisi liar yang belum aku ketahui saat itu. Aku masih belum menyapa
kehidupan yang sesungguhnya. Takut gadis kecilnya terjebak ke lobang hitam dan
tak pernah lagi kembali, kekhawatiran itu lah yang memaksa kedua orang tua ku
berkehendak untuk mengantarkan aku kepada Kyai Zaid.
Kyai Zaid sendiri
adalah kepala Ponpes Karim Syu’aib. Setahu ku, beliau dahulu juga santri alumni
Ponpes ini. Sekarang beliaulah yang mengasuh para santri. Pertama kali
melihatnya, aku menatap wajahnya penuh takut. Cukup jelas betapa tebal imannya.
Tetapi aku merasa risau. Yang ku takutkan bukanlah karena akan dididik oleh
kyai itu, tetapi pikiran yang ku risaukan
jauh lebih buruk dan cukup sering mendatangi otakku. Aku takut jika suatu hari beliau
memintaku menyentuh selembar kain itu dan meminta ku memasangnya di atas kepala
ku. Selembar kain yang disebut ibuku sebagai kerudung, hal yang paling aku
takuti di dunia ini. Tentulah itu yang akan beliau lakukan pertama kali bertemu
dengan ku. Dia mengerang keras ketika aku dengan berani membentak kedua orang
tuaku di hadapannya, saat aku bersikeras tak akan pernah memakaikan apapun yang
akan menutupi rambut indah yang aku miliki.
Tapi suatu kali
aku sadari bahwa aku salah. Yang ku ingat hanyalah bentakan yang beliau
lontarkan kepadaku yang berdosa, bukan betapa ramahnya dia kepada semua orang
yang mengemis ilmu. Sikap lemah-lembut Kyai Zaid kerap membuat para santri
nyaman menimba ilmu disana. Suguhan rohani yang terjadwal tiap harinya sama
sekali tak membuat para santri terganggu, “karena itu semua yang sebenarnya
kita butuhkan.” Seru Kyai Zaid. “Dengan menolong agama Allah, maka Allah juga
akan membantu kita.” Tambahnya lagi.
Namun keramahan
para santri yang ditularkan oleh beliau benar-benar membuatku takut sewaktu
baru sehari-dua hari berada disini. Tak ada yang bisa aku lakukan selain dari
pada pasrah walaupun hati ku merasa terancam akan aturan-aturan (yang sebenarnya
semakin lama semakin aku butuhkan, sungguhpun tentu saat itu aku masih belum
menyadarinya). Pikiranku masih miskin akan agama. Aku sama sekali tak menyadari
bahwa kodratku hidup di dunia ini hanyalah sebagai makhluk pengemis yang akan
selalu memohon kepada Rabb dan Al-qur’an sebagai tumpuan hidup ku. Tak pernah
ku sadari hal tersebut barang sekali sebelum itu, sehingga tak pula pernah ku
kecup manisnya hidup. Hingga akhirnya seorang ibu yang penuh cinta membawa aku―anaknya―ke tempat yang
ia sebut sebagai surga dunia. Pondok pesantren Al-Malikus Salam.
Orang tua ku
menggiring langkahnya, berjalan memasuki gerbang pesantren ini dengan perasaan
kalap! Barangkali mereka merasa hiba meninggalkan aku di sini, atau barangkali
mereka khawatir jika aku tak juga bisa dididik di tempat ini. Mereka cukup
sadar, betapa sulitnya menuntun hati ku kepada yang benar. Acap kali aku
menemukan tangisan di belah pipi sang Ibu penuh duka, tangisan akan kedurhakaan
putrinya. Tetapi tak ada yang bisa mereka perbuat untuk merubahku. Cukup peka
hati ku dari cahaya Ilah. Telingaku pun masih tuli akan merdunya untaian
ayat-ayat Al-qur’an.
“Mama, Mae
mohon jangan siksa Mae di sini. Mae ingin pulang ma..” rengekku berulang kali.
Tak ada yang mendengar rengekan pilu ku (yang dibuat-buat), tak pula ayah ku.
Mereka langsung
menuju keberadaan sang pemimpin Ponpes untuk melaporkan penyerahan kuasa atas
diriku. Aku sendiri menyusuri setiap lorong-lorong ruangan yang dipadati para
santri berjilbab, sementara aku tidak. Pantas saja semua orang melihatku. Hanya
balutan sehelai kaos oblong longgar berlengan pendek dan jeans yang terlihat
menyesak yang ku kenakan. Ratusan pasang mata bagaikan mengancam setiap
keberadaanku.
“Assalaamu’alaikum..” Sebuah suara menyapa.
Aku terkaget mendengar lembutnya suara itu. Aku hanya tersenyum tanpa sempat
menjawab salam dari seorang muslimah yang anggun bagaikan jelmaan sang
bidadari. Aku sama sekali tak menjawab salamnya.
“Siapa nama ukhti?”
Kening ku
seketika menyerngit, mencoba mengerti apa yang dia tanyakan.
“Maksudnya?”
tanya ku dengan gugup. Wanita muda berumur sekitar dua-puluhan itu tertawa,
namun tak menyisakan suara.
“Nama adik
siapa?” Tanya nya lagi. Akhirnya aku mulai menyimpulkan, ukhti barangkali
bermakna adik (tetapi tentulah bukan, aku belum sepenuhnya mengerti).
“Oh! Aku
Maesya.”
Wanita itu terlihat
kaget. Tanpa ku tanya, dia menyebutkan nama nya yang ternyata identik dengan
namaku―namanya Maesyaroh. Saat itu juga dia mengulurkan telapak tangan yang
sebagian besar tertutupi oleh kaus tangan, hanya tersisa jemari-jemari putih
yang bercahaya (karena wuduh’nya). Saat aku menjabat tangannya, dia menempelkan
kedua pipinya ke wajahku bersamaan dengan bisikan Ahlan wa Sahlan, keramahan dari seorang yang masih asing bagi ku. Aku
terkesiap menerima perlakuan tersebut, namun tak dapat ku pungkiri itu lah
pertama kalinya rasa tentram seketika menyapaku.
Mba Maesyaroh
membawaku duduk di taman. Dia segera mengakui bahwa Kyai Zaid sengaja
menyuruhnya mencariku. Dia akan menjadi kakak sekamarku.
Pertanyaan
bodoh pun ku ucapkan,“kok Mba bisa langsung yakin pas ketemu aku?”. Dia
tertawa, lagi-lagi tertawa tanpa mengeluarkan suara, aku bingung bagaimana cara
dia melakukannya. “Ah, dik. Kan Cuma adik yang tak memakai jilbab. Ibu adik
juga menyebutkan sebelumnya.” Ujarnya. Aku tersenyum malu-malu dan sedikit
risih karena berhadapan dengan orang semanis itu. Ujarannya begitu lembut dan
tenang, jauh berbeda dari perempuan dewasa yang kutemui kebanyakan.
Keramahan yang
ku dapatkan darinya merubah rasa takutku akan dunia baru ku ini. Dengannya lah
aku memulai detik-detik awal kehidupan sebagai seorang santri.
Agenda Malam
pertama kalinya telah aku mulai dengan menghadiri acara majlis, Kyai Zaid
bertindak langsung dalam memberi kami siraman rohani. Sejujurnya saat itu
hatiku mendongkol tanpa ada rasa takut sedikitpun. Aku menganggap majlis itu sebagai
hal yang sia-sia belaka, membuang waktu terbaikku untuk beristirahat dengan
cepat.
“Ayat lain yang
menyinggung tentang pensyariatan hijab adalah ayat ke-59 surah Ahzab. Allah swt
dalam ayat tersebut berfirman : Wahai
Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan kepada
wanita-wanita mukmin agar mereka mendekatkan diri kepada mereka dengan jilbab
mereka supaya mereka mudah dikenal dan supaya mereka tidak diganggu maka
sesungguhnya Allah Maha mengampuni dan Maha Penyayang.”
“Imam Shadiq
a.s. bersabda: “Cukuplah sebagai tolak
ukur kehinaan seseorang ketika dia memakai baju yang menyebabkan kemasyhurannya.”
“Rasulullah saw
pun bersabda: “Wanita yang di neraka
menggantungkan dirinya dengan rambutnya adalah wanita yang tidak menutup
rambutnya di hadapan selain muhrim.” Terang Kyai Zaid dalam kultumnya. Saat
itulah tubuhku mulai terasa menggigil
dirayapi rasa takut.
Suatu waktu aku
menyambut shubuh pertama dengan tangisan. Aku menangis karena sebuah
ketidak-siapan sementara aku telah resmi menjadi bagian dari mereka. Aku juga
menangis menahan rasa takut, ucapan Kyai Zaid malam itu masih terngiang-ngiang
di otakku.
“Bagaimana aku
bisa menjadi bagian dari kalian sementara nafsu memaksaku untuk mengingkarinya.
Bagaimana aku mampu melunakkan hati yang sekeras batu ini untuk kembali
menjemput kesejukan.” Isakku tersedu-sedu.
“Adik,
kemarilah.” Ungkapnya, lalu merogoh selembar kain dari dalam lemari kayu
miliknya. Sehelai kerudung berwarna peach. Lalu menaruhnya dengan lemah lembut
di atas kepalaku, menutupi segalanya, dan hanya menyisakan wajahku, lalu ia menuntunku
menghadap ke cermin. Sungguhpun ketika itu aku menurut saja pada nya.
“Lihatlah
wajahmu. Rasakan ketentraman yang akan membelai segenap jiwamu. Hijab tidaklah
membuatmu berubah secepat tiupan angin, tetapi akan menuntunmu secara perlahan.
Percayalah, hijab akan menjemput kesejukan untuk hati mu.” Tuturnya.
Aku tersenyum
dan menyeka air mataku. Benar saja, ketentraman menerpa sekujur tubuhku
bagaikan suatu mukjizat. Tak pernah aku merasakan hal yang lebih sejuk lagi
sebelumnya. Aku bahkan melihat betapa indahnya wajahku berhiaskan kerudung itu.
Aku tersenyum berurai air mata. Sungguh bahagia yang ku rasakan semenjak itu. Semakin
lama aku bersama kerudung itu, maka kesejukan bathin semakin ku rasakan sehingga
hadirlah rasa butuh yang amat sangat. Tak mampu kepalaku terlepas dari balutan
lembutnya yang melindungi ini. Menutup rapi auratku bagaikan benteng yang
melindungiku dari serangan peluru sekalipun. Peluru yang tak jarang mengintai
setiap keberadaan makhluk seindah perempuan, yaitu mata-mata yang tak berhak
memandangnya.
Saat ini, ku
masih bisa mengingat segala masa yang telah ku tinggalkan jauh di belakangku. Terkadang
rasa geli dan menyesal tak bosan menemaniku. “Ah, seandainya Mama tak membawaku
ke surga ini, maka celakalah hidupku.” Gerutuku.
Suatu hari
setelah tiga tahun aku menjalani kehidupan di Ponpes yang penuh dengan berkah
ini, Mbak Maesyaroh menunjukkan kepadaku sebuah foto yang membuatku memekik ngeri
melihatnya. Terdapat potretan yang sebenarnya tak lain terlihat nyaris sama
dengan ku waktu dulu. Potretan seorang gadis tanpa kerudung berpakaian tak
ubahnya seperti tanpa pakaian- tengah berpose layaknya selebritis neraka. Aku
menatapnya penuh sesal, begitu celanya aurat yang terbuka itu, sama sekali tak enak
dipandang mata.
“Ini fotoku
sewaktu masih berumur 18 tahun. Tepatnya potretanku lima tahun yang lalu.” Aku
mengamati foto itu lekat-lekat dengan bertanya-tanya. Nyaris aku tak percaya
bahwa ini adalah Mba Maesyaroh. “Hijablah yang mengubahku di tempat bagaikan
surga ini.” Celetuknya dan tersenyum penuh haru.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar