Rabu, 19 Februari 2014

A non-fiction Short Story



I wrote it as my assignment. My lecturer asked us to find an example of literature work, “Find and collect it!”, and I preferred to create it by myself as long as I can do! ;) Enjoy it friends..! It's based on my own experience.


Gempa!
By. Thye Savannah
Tiada kenangan lainnya yang lebih menakutkan melainkan sebuah kenangan yang terekam saat umurku baru memasuki usia remaja. Aku hanyalah remaja biasa yang saat itu  baru seusia seorang murid sekolah menengah pertama, masih sebagai murid di salah satu pondok pesantren. Aku tak terlalu ingat berapa tinggi tubuhku saat itu, sepertinya masih terlalu kecil. Karena seingatku, tubuhku baru mencapai tinggi bahu seorang guru yang saat itu ku peluk dengan penuh rasa takut. Aku menggigil penuh oleh keringat dingin. Tak hanya aku. Tapi semua teman perempuan dan sebagian besar teman laki-laki di sekolah ku. Bahkan banyak diantara kami yang menangis. Kami tak menyangkan segalanya akan berubah semudah itu.
Saat itu kami baru memulai pelajaran jam ketiga setelah istirahat. Mulanya kami tertawa terbahak tanpa berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku masih ingat ketika seorang guru memintaku menyelesaikan sebuah jawaban pelajaran matematika di depan kelas. Ku pikir aku memberikan jawaban yang tepat dan seharusnya akan dihadiahi tepuk tangan seisi kelas lagi. Tapi sepertinya tidak. Saat aku berbalik menuju wajah teman-teman, aku hanya mendapati raut pucat mereka satu-per satu. Aku masih merasa bingung. Guruku berdiri dan meminta aku segera duduk tanpa berniat sedikitpun untuk memeriksa jawaban yang ku tulis. Wajahnya juga terlihat pucat.
            “Hey! Ada apa?” bisik ku pada Dahlia―dia teman sebangku ku.
            “Gempa! Kau tak merasakannya?” Barulah saat itu aku terkejut. Aku tak merasakannya sama sekali!
Guruku berjalan mendekati jendela. Saat itulah aku baru merasakan getaran yang mengguncang tempatku menapak. Semua murid segera berhamburan keluar dari ruangan kelas dengan teriakan melengking. Aku merasakannya tentu saja, dan itu saat pertama kalinya bagi ku. Sungguh mengerikan. Tanah yang ku pijak bergetar cukup lama saat itu. Lafadz zikir tak henti kami ucap bersama-sama.
“Tebingnya runtuh! Lihat! Tebingnya runtuh! Ngarai sianok!” sorak salah seorang teman lelaki. Kami berlari untuk melihat langsung.
Dari sekolahku yang berlokasi di ketinggian, kami bisa melihat dengan jelas saat tebing ngarai sianok runtuh walaupun jaraknya cukup jauh. Beberapa teman kembali terpekik ngeri melihat kejadian itu.
Kami tak melanjutkan kegiatan belajar. Guru-guru berusaha menenangkan murid-murid dan memberikan kami arahan jika sewaktu-waktu gempa kembali terulang. Hanya sekian jam setelah itu kami telah berani tertawa lagi. Rasa takut itu perlahan-lahan hilang. Yang kami pikirkan saat itu ialah agar kami cepat bisa pulang setelah jam istirahat sholat makan (isoma) berakhir.
Masjid tempat kami sholat letaknya tak terlalu jauh dari bangungan pesantren, hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit hingga kami mencapai lokasi. Sebetulnya kami merasa sedikit was-was jika nanti gempa kembali mengejutkan kami. Aku memilih untuk diam menenangkan diriku tanpa harus ikut dengan sekelompok teman yang masih membicarakan tentang gempa.
Rakaat pertama dan kedua berlangsung tenang, walaupun hatiku penuh dengan rasa takut yang membayang. Saat sujud rakaat ketiga, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang dahsyat dari tempat sujudku. Bumi seakan ingin meledak! Selama dua detik aku masih setia dalam keadaan sholat karena ku pikir tak ada tempat yang lebih aman selain di dalam masjid. Namun melihat orang-orang telah berhamburan, aku pun ikut mengkerahkan segenap tenaga untuk segera lari. Rasanya cukup sulit mencapai pintu masjid saat bumi bergerak bagai ingin menggulung. Mataku menatap langit yang terlihat bagai ingin memakan kami, benakku berpikir mungkin saat itu kiamat akan segera membinasakan kami semua. Mungkin umurku tak akan cukup panjang hingga malam nanti. Sungguh sangat menakutkan! Aku menangis berpelukan dengan beberapa orang temanku. Tangisku semakin keras saat melihat kaki salah seorang teman yang terluka penuh darah. Gempa masih saja berlanjut hingga beberapa detik saat kami telah berada di luar.
            Kaca-kaca mesjid berjatuhan, hanya itu kerusakan yang kutemui dengan jelas pada masjid itu. Sementara di sekelilingku, rumah-rumah penduduk tak di sangka telah berubah berbagai bentuk. Semua warga keluar dari rumah mereka. Saat itulah aku teringat akan keluargaku di rumah. Dengan cepat aku memaksa teman-temanku kembali menuju pesantren agar bisa cepat pulang ke rumah. Kakiku yang bergetar hebat masih cukup mampu ku paksa berlari. Aku tak ingin menunda lebih lama lagi untuk bersua keluargaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar