I wrote it as my
assignment. My lecturer asked us to find an example of literature work, “Find and
collect it!”, and I preferred to create it by myself as long as I can do! ;) Enjoy
it friends..! It's based on my own experience.
Gempa!
By. Thye Savannah
Tiada
kenangan lainnya yang lebih menakutkan melainkan sebuah kenangan yang terekam
saat umurku baru memasuki usia remaja. Aku hanyalah remaja biasa yang saat
itu baru seusia seorang murid sekolah
menengah pertama, masih sebagai murid di salah satu pondok pesantren. Aku tak terlalu
ingat berapa tinggi tubuhku saat itu, sepertinya masih terlalu kecil. Karena
seingatku, tubuhku baru mencapai tinggi bahu seorang guru yang saat itu ku
peluk dengan penuh rasa takut. Aku menggigil penuh oleh keringat dingin. Tak
hanya aku. Tapi semua teman perempuan dan sebagian besar teman laki-laki di
sekolah ku. Bahkan banyak diantara kami yang menangis. Kami tak menyangkan
segalanya akan berubah semudah itu.
Saat
itu kami baru memulai pelajaran jam ketiga setelah istirahat. Mulanya kami
tertawa terbahak tanpa berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku masih
ingat ketika seorang guru memintaku menyelesaikan sebuah jawaban pelajaran
matematika di depan kelas. Ku pikir aku memberikan jawaban yang tepat dan
seharusnya akan dihadiahi tepuk tangan seisi kelas lagi. Tapi sepertinya tidak.
Saat aku berbalik menuju wajah teman-teman, aku hanya mendapati raut pucat
mereka satu-per satu. Aku masih merasa bingung. Guruku berdiri dan meminta aku
segera duduk tanpa berniat sedikitpun untuk memeriksa jawaban yang ku tulis.
Wajahnya juga terlihat pucat.
“Hey! Ada apa?” bisik ku pada Dahlia―dia teman sebangku
ku.
“Gempa! Kau tak merasakannya?” Barulah saat itu aku
terkejut. Aku tak merasakannya sama sekali!
Guruku
berjalan mendekati jendela. Saat itulah aku baru merasakan getaran yang
mengguncang tempatku menapak. Semua murid segera berhamburan keluar dari
ruangan kelas dengan teriakan melengking. Aku merasakannya tentu saja, dan itu
saat pertama kalinya bagi ku. Sungguh mengerikan. Tanah yang ku pijak bergetar cukup
lama saat itu. Lafadz zikir tak henti kami ucap bersama-sama.
“Tebingnya
runtuh! Lihat! Tebingnya runtuh! Ngarai sianok!” sorak salah seorang teman
lelaki. Kami berlari untuk melihat langsung.
Dari
sekolahku yang berlokasi di ketinggian, kami bisa melihat dengan jelas saat
tebing ngarai sianok runtuh walaupun jaraknya cukup jauh. Beberapa teman
kembali terpekik ngeri melihat kejadian itu.
Kami
tak melanjutkan kegiatan belajar. Guru-guru berusaha menenangkan murid-murid
dan memberikan kami arahan jika sewaktu-waktu gempa kembali terulang. Hanya
sekian jam setelah itu kami telah berani tertawa lagi. Rasa takut itu
perlahan-lahan hilang. Yang kami pikirkan saat itu ialah agar kami cepat bisa
pulang setelah jam istirahat sholat makan (isoma) berakhir.
Masjid
tempat kami sholat letaknya tak terlalu jauh dari bangungan pesantren, hanya
memakan waktu sekitar sepuluh menit hingga kami mencapai lokasi. Sebetulnya
kami merasa sedikit was-was jika nanti gempa kembali mengejutkan kami. Aku
memilih untuk diam menenangkan diriku tanpa harus ikut dengan sekelompok teman
yang masih membicarakan tentang gempa.
Rakaat
pertama dan kedua berlangsung tenang, walaupun hatiku penuh dengan rasa takut
yang membayang. Saat sujud rakaat ketiga, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang
dahsyat dari tempat sujudku. Bumi seakan ingin meledak! Selama dua detik aku
masih setia dalam keadaan sholat karena ku pikir tak ada tempat yang lebih aman
selain di dalam masjid. Namun melihat orang-orang telah berhamburan, aku pun
ikut mengkerahkan segenap tenaga untuk segera lari. Rasanya cukup sulit
mencapai pintu masjid saat bumi bergerak bagai ingin menggulung. Mataku menatap
langit yang terlihat bagai ingin memakan kami, benakku berpikir mungkin saat
itu kiamat akan segera membinasakan kami semua. Mungkin umurku tak akan cukup
panjang hingga malam nanti. Sungguh sangat menakutkan! Aku menangis berpelukan
dengan beberapa orang temanku. Tangisku semakin keras saat melihat kaki salah
seorang teman yang terluka penuh darah. Gempa masih saja berlanjut hingga
beberapa detik saat kami telah berada di luar.
Kaca-kaca mesjid berjatuhan, hanya itu kerusakan yang
kutemui dengan jelas pada masjid itu. Sementara di sekelilingku, rumah-rumah
penduduk tak di sangka telah berubah berbagai bentuk. Semua warga keluar dari
rumah mereka. Saat itulah aku teringat akan keluargaku di rumah. Dengan cepat
aku memaksa teman-temanku kembali menuju pesantren agar bisa cepat pulang ke
rumah. Kakiku yang bergetar hebat masih cukup mampu ku paksa berlari. Aku tak
ingin menunda lebih lama lagi untuk bersua keluargaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar